Newest Post
// Posted by :Steven Crishtian
// On :Minggu, 24 Mei 2015
Hai sobat “ANIMELIA NEWS” kali ini mimin akan membahas mengenai “MUSIBAH DAN RENUNGANYA”, simak ya setiap paragrafnya dan scroll terus ke bawah. :D
“MUSIBAH!” apa yang terbesit di pikiran
anda ketika mendengar/membayangkan tentang kata tersebut?. Tidak ada seorang pun, orang di dunia ini yang
ingin mendapatkan suatu musibah, benar tidak? Tapi hal yang memang sudah pasti
adalah setiap orang yang ada di dunia ini, baik tua ataupun muda, miskin ataupun
kaya mereka pasti pernah mendapatkan suatu musibah didalam hidup mereka. BOHONG
kalau ada yang bilang kehidupannya “aman tuhh gak ada musibah!”. Karena itu
telah di tetapkan sang pencipta alam semesta, Allah Swt. Pertama mari kita
simak baik-baik apa termologi atau arti dari musibah itu sendiri.
1. Pengertian
Musibah
Dalam
sebuah situs di internet, ada sebuah tulisan bagus. Judulnya, “Cangkir yang
Cantik”. Kita kutip saja cerita itu sebagai berikut.
Suatu
waktu, ada sepasang kakek dan nenek yang pergi ke sebuah toko souvenir untuk
mencari hadiah buat cucu mereka. Tiba-tiba, mata mereka tertuju pada sebuah
cangkir yang cantik. “Lihat cangkir itu,”Kata si nenek kepada suaminya. “Kau
benar, inilah cangkir cantik yang pernah aku lihat,”ujar si kakek.
Saat
mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara,
“terima kasih atas perhatiannya,perlu diketahui dulunya aku tidak cantik.
Sebelum menjadi cangkir yang di kagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang
tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang perajin dengan tangan kotornya
melempar aku ke sebuah meja berputar”
Kemudian
ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. “Stop! Stop!” aku
berteriak, tetapi orang itu berkata, “Belum! “ lalu ia mulai menyodok dan
meninjuku berulang-ulang. “Stop! Stop!” teriak ku lagi. Tapi orang itu masih
saja meninjuku, tampa mengiraukan teriakan ku. Bahkan lebih buruk lagi
memasukan aku ke dalam perapian. “Panas! Panas!” Teriaku dnegan keras. “Stop!
Cukup!” teriaku lagi. Tapi orang ini berkata, “Belum!”
Akhirnya
ia mengankat aku dari perapian itu dan membiarkan ku sampai dingin. Aku
berpikir selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku
diberikan pada wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnnya begitu
memualkan. “Stop! Stop!” aku berteriak
Wanita
itu berkata, “Belum!”lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia
memasukan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya. “Tolong!
Hentikan penyiksaan ini!” Sambil menagnais aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi
orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas
“menyiksaku”, kini aku dibiarkan dingain.
Setelah
benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku
dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya,
karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Smua kesakitan
dan penderitaan ku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
SO
setelah sahabat baca cerita di atas, makna apa yang sahabat bisa simpulkan dan
sahabat ambil dari cerita di atas. Ya, seperti inilah Allah Swt membentuk kita.
Pada saat Dia membentuk kita, adakalanya kita merasa lelah dan banyak air mata
tertumpah sudah. Tapi, beginilah salah satu cara Allah swt untuk menjadikan
kita lebih “cantik”, menarik dan jadi “siap pakai” bagi kehidupan ini.
Selanjutnya,
mari kita masuk pada pembahasan tentang musibah itu sendiri.
Kata
“musibah” berasal dari Bahasa Arab mushibah. Kata ini terambil dari akar kata
“mengenai” atau “menimpa.” Pada mulanya, menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab, kata ini berkaitan dengan “lemparan” yang mengenai sasaran. Dalam al-Qur’an kata ini terulang sebanyak 10 kali. Semuanya itu digunakan untuk sesuatu yang tidak menyenangkan. Namun, apa yang tidak menyenangkan itu bisa jadi ada kebaikannya?
“mengenai” atau “menimpa.” Pada mulanya, menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab, kata ini berkaitan dengan “lemparan” yang mengenai sasaran. Dalam al-Qur’an kata ini terulang sebanyak 10 kali. Semuanya itu digunakan untuk sesuatu yang tidak menyenangkan. Namun, apa yang tidak menyenangkan itu bisa jadi ada kebaikannya?
Allah
swt, berfirman tentang hal itu dalam surat al-baqarah ayat 216,
“Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui,
sedangkan kamu tidak mengetahui.”
2. Musibah :
Sebab Dan Tujuannya.
Mungkin pernah tersirat tanda tanya besar di benak
kita, tentang adakah sebab dan tujuan dari musibah yang kita pernah dapatkan.
Musibah yang menimpa seorang anak manusia, pasti ada
sebab dan tujuannya. Adanya musibah atau ujian, itu tampaknya sudah merupakan
jalan bagi kesuksesan. Ya, sukses rasanya tak akan datang tanpa adanya ujian.
Mereka yang masuk dalam 100 tokoh berpengaruh di dunia, seperti yang ditulis
oleh michael hart, semuanya penuh dengan penderitaan dan pengorbanan. Mereka
bukan jenis manusia yang santai. Mereka berusaha keras terlepas dari ideologi
yang mereka bawa untuk mencapai sukses yang mereka idamkan.
Artinya bahwa, kesuksesan dalam hidup selalu tak
lepas dari ujian, cobaan, atau musibah. Hal ini senada dengan yang ditulis oleh
ulama dan penulis besar, Ibnu Qayyim, yang berkata, “telah menjadi ketetapan
hikmah Allah swt, bahwa kebahagiaan, kenikmatan, dan kesenangan itu tidak akan
tercapai kecuali setelah melalui kesengsaraan dan penderitaan”
Semua itu, menurut murid dari Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah itu, “Tidak akan diperoleh kecuali setelah menempuh jalan yang tidak
menyenangkan”
Jadi, musibah, cobaan atau ujian itu punya himah,
sebab dan maksud tersendiri di balik eksistensinya. Seorang muslim perlu
mencari makna dari musibah itu. Pada bagian ini mari kita lihat penjelasan
tentang sebab datangnya musibah, begitu juga tujuan dari di timpakanya musibah
kepada manusia.
Sebab Datangnya Musibah
Bisa jadi ada di antara kita yang ketika di timpa
musibah bertanya, “Kenapa harus Aku?” Atau, kalau negerinya yang kena, mereka
berkata, “Kenapa harus negeri kami yang kena musibah ini?”
Musibah yang ditimpakan kepada manusia setidaknya
sebabnya karena dua hal. Yang pertama : karena sunnatullah. Artinya bahwa,
sudah “hukum alam” dari Allah swt yang pasti akan membuat perubahan-perubahan
di bumi ini. Misalnya daerah yang tandus, kemudian gunung yang meletus. Letusan
uty awalnya dianggap sebagai musibah, akan tetapi belakangan malah menjadi
sebuah berkah karena dapat menyuburkan tanah pertanian masyarakat. Sunnatullah
berarti ketentuan Allah yang pasti terjadi.
Sedangkan yang kedua : karena pelangaran moral.
Dalam salah satu ayatnya, allah swt telah memberitahukan bahwa kalau penduduk
sebuah negeri itu beriman dan bertakwa, maka akan dibubarkan berkah dari negeri
itu beriman dan bertakwa, maka akan di bukakan berkah dari langit dan bumi.
Maka, kalau menjadi antitesis dari berkah, yaitu musibah yang dapat berarti
‘adzab, maka ini adalah peringatan sekaligus bentuk murka Allah swt. Allah swt
jadi murka kepada manusia karena mereka melanggar hukum-hukum yang telah di
tentukannya. Artinya, pelanggaran moral ini berakibat pada turunnya’adzab dan
murka dari Allah swt.
